Feeds:
Posts
Comments

Jakarta – Pada saat makan siang, Warung Sekar Taji selalu dipenuhi para karyawan dari berbagai kantor di sekitarnya. Apalagi setelah shalat Jumat, karena tempatnya tidak jauh dari sebuah masjid. Padahal, di sekitarnya ada banyak pilihan lain.

Apa yang menarik dari warung ini? Pertama, karena harganya yang sungguh murah meriah. Kedua, tentu pula karena citarasanya yang cocok di lidah para pelanggannya. Warung Sekar Taji mengkhususkan pada masakan Jawa Timur.

Pilihan saya di sini – kebetulan pula yang paling mahal – adalah rujak cingur (Rp 25 ribu). Disajikan dengan irisan lontong yang cukup lembut, rujak cingurnya tampil cukup sederhana. Sayurnya hanya kangkung, tauge, dan kacang panjang. Buahnya pun hanya ketimun, bengkuang, dan nenas. Tetapi, potongan cingurnya hadir dalam porsi yang cukup generous, ditambah potongan tahu dan tempe goreng. Sambal petisnya juara.

Setidaknya, ada dua kesepakatan dalam menilai rujak cingur Jawa Timur. Pertama, cingurnya tidak boleh terlalu empuk. Tidak perlu kualitas cingur yang bisa menggigit kembali, tetapi harus masih kenyal teksturnya. Kedua, sambal petisnya harus merupakan campuran antara petis ‘kampung’ dan petis ‘priyayi’. Kalau petisnya terlalu bagus, malah tidak akan menghasilkan sambal yang pas tendangannya.

Dalam skala 6-10, rujak cingur Sekar Taji saya beri angka 8. Lumayan, bisa buat tombo kangen (pengobat rindu) bagi mereka yang tidak bisa terlalu sering pulang mudik ke Surabaya.

Sayangnya, bagi sebagian orang, rujak cingur masih merupakan ‘bizarre food’. Entah kenapa, cingur alias moncong sapi ternyata merupakan isu yang menjijikkan bagi banyak orang. Karena itu, bagi orang-orang yang tidak termasuk ‘Jawa Timur People’, rujak cingur merupakan acquired taste.

Oke, kalau Anda belum bisa makan rujak cingur, masih ada pilihan lain, yaitu nasi rawon (Rp 17 ribu). Potongan dagingnya tidak terlalu banyak, tetapi empuk dan tak seberapa berlemak. Kuah rawonnya encer, dengan citarasa intens. Saya duga dalam proses memasaknya memakai daun mlinjo (daun so), karena saya mendeteksi citarasa yang mirip dengan nasi pindang dari Kudus. Paket nasi rawon ini disajikan dengan telur asin, tauge pendek, sambal trasi, dan krupuk.

Pilihan lainnya adalah nasi rames begana (Rp 16 ribu), nasi ayam bakar (Rp 16 ribu), nasi pecel lele (Rp13 ribu), nasi pecel pincuk atau nasi pecel tumpang (Rp 9 ribu), dan nasi soto ayam (Rp 15 ribu). Side dish yang dapat dipesan adalah bothok teri, tahu telur, atau tahu thek.

Minumannya pun khas, seperti: es blewah, es kelapa muda, es jeruk, dan es soda gembira. Sayangnya, tidak ada es sinom yang terbuat dari daun asam. Kalau ada, sungguh pas-cok untuk mendampingi berbagai masakan yang rata-rata pedesnya nonjok. (Bondan Winarno)